Author

Trias Nur Rahman

Date

4 Aug 2019

Source

Medium

Bagaimana Cara Kami Membuat Aplikasi yang Product-Market Fit

Photo by Austin Distel on Unsplash
Build fast, fail fast, succeed faster.
Artikel ini saya tulis karena cukup banyak orang mencoba mengembangkan aplikasi untuk bisnis startup, tetapi pada akhirnya tidak banyak yang memakai yang akhirnya berakibat tidak berkembangnya bisnis startup. Mengapa begitu? Karena produknya bukan menjadi solusi dari market yang dituju, atau bisa dibilang belum mencapai product-market fit.

Kami di VhiWEB membantu beberapa klien startup untuk membantu menjalankan roda bisnisnya dengan membuat produk digital seperti website maupun mobile app.

Teknologi hanyalah salah satu bagian dari keberlangsungan dan keberhasilan bisnis suatu startup khususnya untuk menemukan product-market fit. Banyak faktor lain seperti operation, marketing, team culture, atau customer support. Apa yang bisa kita lakukan?

Tentukan Scope MVP

MVP (Minimum Viable Product) merupakan istilah yang sering dipakai dalam pengembangan produk untuk menentukan bentuk terkecil agar suatu produk dapat digunakan mencapai tujuannya. Karena setelah produk dapat digunakan, kita akan mendapatkan feedback yang cukup banyak sehingga menjadi insights dalam menentukan pengembangan selanjutnya.

Proses pertumbuhan dan perkembangan membutuhkan tahapan. Seperti halnya manusia, untuk dapat berlari kencang dan jauh kita harus memulai dengan melangkah terlebih dahulu.

Banyak startup founders yang overconfident dengan mimpinya dengan memiliki fitur yang banyak, membantu banyak orang, dan secara bisnis yakin profitable. Tapi tunggu dulu, siapa yang bisa menjamin fitur kita yang benar-benar dibutuhkan? Semuanya butuh proses berkembang dan belajar.

MVP jika dianalogikan untuk membuat produk alat transportasi (Source: https://mlsdev.com/blog/minimum-viable-product-examples)

Menentukan scope dalam MVP sebaiknya diusahakan seminimal mungkin dengan target aplikasi tersebut bisa digunakan untuk beroperasi.

Rilis Sesegera Mungkin

Tanpa eksistensi aplikasi kita di public maka bisa dibilang masih bernilai 0. Entah itu versi ke 0.1, 0.2, dst., tetap saja belum mencapai angka 1. Tapi bagaimana jika fiturnya masih belum berjalan lancar? Tidak masalah, karena memang tidak akan lancar. Apa ada suatu aplikasi sukses cukup rilis satu kali lalu tidak perlu ada update?

Laman Web Facebook pada Tahun 2004

Seperti pada gambar di atas, kita bisa cari dan lihat bahwa semua aplikasi yang pertama diluncurkan pasti sudah berevolusi menjadi seperti sekarang ini.

Gunakan Platform yang Cepat Dibuat

“Cepat” merupakan kata kunci untuk proses pengembangan awal suatu bisnis startup. Kenapa begitu? Karena jangan sampai kita terhambat untuk melihat berhasil atau tidaknya ide kita karena proses pengembangannya lambat.

Tidak perlu teknologi yang canggih untuk di awal, bahkan kami kadang menyarankan dengan wix, shopify, atau platform lain yang membatu mempercepat mendapatkan traction dan potential leads dari target pengguna kita. Di sisi lain sambil kita memulai proses pengembangan tentunya.

Tak jarang kami menemui developer dengan idealismenya yang ingin menerapkan konsep microservices — konsep membagi program dengan bagian kecil-kecil dan terpisah — di awal. Tapi tunggu dulu, apakah sudah yakin itu bisa scalable ke depannya?

Untuk itu sampai saat ini kami memilih untuk menggunakan OctoberCMS untuk setiap pengembangan aplikasi, dari yang berupa website sederhana hingga sistem yang kompleks. Mengapa begitu? Sederhananya karena kami bisa membuat fitur dengan cepat tanpa kepusingan hal-hal yang mendasar.

Laman Utama OctoberCMS (https://octobercms.com)

Secara teknis OctoberCMS merupakan platform yang dikembangkan di atas Laravel PHP Framework yang cukup modular di mana setiap modul sudah dipisah-pisah sejak awal. Tidak seperti Wordpress yang memiliki pengaturan yang mudah, OctoberCMS memberikan fleksibilitas bagi developer untuk membuat produk yang kita inginkan. Cukup banyak built-in features yang selalu kita gunakan seperti modul authentication, backend, CMS, logging, dan sebagainya. Ditambah kami cukup rajin mengumpulkan building blocks modul kita ke open source.

Persiapkan Tools untuk Marketing

Salah satu hal yang sering diabaikan ketika mengembangkan aplikasi adalah cara “mengemas” dan bagaimana teknik mendistribusikannya. Sangat disayangkan jika memiliki suatu produk yang bagus tapi orang tidak dapat mengenalinya.

Jika aplikasinya berbasis web maka perlu dioptimalkan teknik SEO (Search Engine Optimalization) agar memberikan target pencari yang tepat untuk melihat aplikasi kita. Ditambah setuhan copywriting yang jelas sehingga target market yang sesuai akan tertarik.

Meskipun aplikasi kita masih sedikit penggunanya, sedini mungkin juga kita perlu bisa mendapatkan data dari pengunjung dengan berbagai cara. Bisa dengan memasang tracker seperti Google Analytics. Dapat juga dengan menambah fitur email newsletter untuk mendapatkan potential customers bisnis kita. Hal tersebut akan sangat berguna untuk kita mengevaluasi dan menentukan decision selanjutnya.

Evaluasi, Mulai Beriterasi

Di sinilah perjalanan bootstrapping suatu aplikasi baru berjalan. Kita akan mengalami “serunya” melihat produk kita dipakai oleh orang, mendapatkan komplain, leads, yang tentunya memicu kita untuk bisa mengembangkan apa yang mereka butuhkan.

Iterasi ini proses yang tidak akan putus. Jika kita berhenti beriterasi, tandanya ada yang salah dalam pendekatan bisnis kita. Bisa jadi kita membutuhkan sedikit pivot untuk mencari jalan iterasi baru.

Untuk tahapan ini stakeholders dapat menerapkan berbagai metodologi seperti Lean Startup, Design Thinking, atau Agile Development agar memiliki pola yang efisien.

Itulah beberapa hal yang kami selalu coba terapkan agar para startup dan klien kami dapat menuju kesuksesan dengan menemukan product-market fit secara cepat. Kesuksesan bisnis startup klien merupakan semangat kami untuk selalu memberikan kontribusi positif dengan cara yang efisien sesuai kompetensi kami.


Bagaimana Cara Kami Membuat Aplikasi yang Product-Market Fit was originally published in VhiWEB on Medium, where people are continuing the conversation by highlighting and responding to this story.

buble chat

Tell us your story,
we would like to understand
your problem better.

Get in Touch