Author

Angellica Octavianzy Sabrina

Date

19 Aug 2019

Source

Medium

Ketika Manusia dan Sistem Ingin Bertemu, di situlah Kami Berada

Definisi menjadi seorang system analyst di mata saya.

Photo by You X Ventures on Unsplash

“Halo, apa kabar? Sudah lama nggak ketemu, sekarang kerja di mana?”

Apa kamu sering terima pertanyaan ini setiap bertemu sanak saudara atau teman yang sudah lama tidak berjumpa?

Agency. Jasa pembuatan web dan aplikasi mobile.” Saya menjawab, berusaha mencari term yang paling mudah dimengerti oleh mereka yang mungkin tidak akan paham kalau saya jawab: modern digital agency that crafts digital solutions to our clients' digital problems. “Saya buat sistem,” tambah saya seadanya. Duh, kurang elegan ya jawabannya.

Seringnya setelah saya jawab begitu, bincang basa basi pun berhenti, antara mereka yang bingung mau bertanya apa lagi, atau saya yang bingung harus bagaimana menjelaskan pernyataan: saya buat sistem. Dan seperti biasa, tidak ada yang paham kontribusi saya bagi suatu bisnis atau usaha dari sisi teknologi. Kalau seperti itu, saya jadi nggak bisa promosi jasa kantor kan? Eh…

Oke, sebelum saya lanjutkan, kenalan dulu yuk! Halo, saya Angellica, system analyst di VhiWEB. Mungkin terdengar cheesy, tapi saya percaya awal yang baik untuk membangun relasi adalah dengan berkenalan. Jadi, salam kenal, ya, pembaca yang budiman, dan selamat datang di publikasi kami!

Sebagai tulisan pertama, izinkan saya mengeluarkan isi hati ini yang selalu tidak pernah bisa memberi jawaban tepat bagi mereka yang punya keinginan untuk tahu tentang kehidupan saya. Setelah berkali-kali menjawab dengan format kalimat yang sama, akhirnya saya jadi berpikir sendiri, apa sih makna jawaban template saya itu? Bagaimana sih saya membuat sistem selama dua tahun ini?

Menilik sejarah…

Sebagai seorang lulusan IT yang belum ada pengalaman kerja, tapi sudah berani untuk lanjut S2, tentu saya merasa agak minder mau meniti karir sebagai seorang programmer. Akhirnya berbekal ilmu manajemen sistem informasi yang saya dapat selama S2, saya memutuskan untuk mencari pengalaman menjadi seorang analis.

Hmm, tapi apa sih sebenarnya menjadi seorang analis itu? Untuk suatu sistem pula. Well, bagi saya saat dulu deg-degan menanti gaji… eh, hari pertama bekerja, menjadi seorang analis harus pintar mendefinisikan kebutuhan sistem dan menuangkannya selain kepada programmer tapi juga dalam bentuk dokumentasi. Dengan definisi sederhana itu, saya mencoba menjalani pekerjaan saya.

Namun pada perjalanannya, menjadi seorang system analyst (SA) lebih dari sekadar membuat diagram kebutuhan, meminta programmer untuk mengimplementasikannya, menguji sistem yang dibuat, dan seperangkat job desc lainnya yang bisa kita temukan di setiap lowongan pekerjaan ataupun portal informasi yang ada di Google.

Menjadi SA artinya…

Mampu brainstorming dan memberi solusi

Requirement utama untuk jadi seorang SA: mampu mendefinisikan kebutuhan sistem. Proses ini tentu diawali dengan diskusi bersama klien. Biasanya, klien sulit untuk menyampaikan kebutuhan mereka dengan tepat. Kadang terlalu luas sehingga harus kita kerucutkan, kadang terlalu sempit sehingga perlu kita bantu arahkan agar membuahkan kebutuhan yang lebih baik dan tepat sasaran.

Pertanyaan yang harus selalu ada di kepala SA: “Kebutuhan mereka itu gunanya untuk apa? Bagaimana dampaknya? Apa ada solusi lain yang lebih efektif?” Seorang SA harus selalu mencoba untuk berpikir lebih jauh untuk membantu klien lebih memahami kebutuhan mereka sendiri. Jadilah seorang yang solutif.

Bayangkan jika klien dengan sangat antusias menyampaikan pendapat, ide, atau bahkan masalah yang dimiliki, tapi sebagai SA kita tidak mampu men-direct diskusi ke arah yang tepat, hal itu bisa menghasilkan kebutuhan yang tidak jelas, atau bahkan membuat ekspektasi klien menurun.

Susah? Hahaha, you bet. Saya pun masih struggle sampai hari ini. It requires a lot of practice and mentorship.

Kenali dan pahami sistem yang dibuat

Agar mampu memberikan solusi bagi klien, akan sangat baik jika seorang SA bisa memahami sisi teknis pengembangan aplikasi dan membantu tim saat merumuskan solusi teknis tersebut. SA harus dapat mempertimbangkan sisi teknis suatu kebutuhan yang diinginkan klien dengan mempertimbangkan tools, metode, drawbacks, alternatif, ataupun referensi sistem atau aplikasi lain yang setipe atau pernah ada.

Sebagai contoh, Traveloka dan Tokopedia adalah sama-sama marketplace. Pada keduanya kita dapat melakukan transaksi jual beli. Ada merchant yang menjual produk dan ada customer yang membeli produk. Namun keduanya menjual produk yang berbeda, sehingga sistem yang dibangun menjadi tidak sama. Yang paling kasat mata adalah, homepage experience keduanya yang jelas berbeda.

Nah, bagaimana caranya SA bisa memahami sisi teknis yang dimaksud? Seorang SA harus…

Bersedia memiliki ilmu dari setiap anggota tim

Alangkah baiknya jika SA bisa memiliki ilmu yang dimiliki anggota tim, baik itu dari sisi desain UI/UX, maupun sisi pengembangan (programming). SA harus bisa membantu merumuskan pengembangan fitur yang mana dapat diakomodasi secara teknis (bagi tim) maupun kebutuhan (bagi klien).

Di sini saya nggak bilang SA harus bisa ngoding ya, tetapi akan sangat baik jika ia mampu menganalisis logic yang tertuang di source code dan logic sebenarnya dari suatu kebutuhan; dapat menemukan celah dan mampu memberi solusi dari temuan tersebut.

Jadi, banyaklah belajar, membaca, dan mencoba ya. (Reminder buat saya ini sebenarnya~)

Mampu mengayomi dan memahami

Setelah memiliki ilmu dari setiap anggota tim, seorang SA harus memahami kepribadian anggota tim. Bukan berarti kita harus kenal luar dalam. SA nggak perlu tahu permasalahan pribadi tim koq. Tapi yang mau saya tekankan adalah seorang SA harus dapat mendengar anggota timnya, seperti halnya mendengarkan klien.

Bagi saya, tim sama pentingnya dengan klien, bahkan lebih penting. Why go above and beyond for client while your team is suffering? Sama seperti keluarga dan teman, pasti kamu lebih mengutamakan keluarga dulu baru teman, kan?

Go further. Pelajari pola pikir tim. Pelajari struktur coding-annya (kalau bersedia). Programmer A pasti berbeda dengan Programmer B.

Go beyond. Pelajari karakternya, mood-nya, kebiasaannya ketika ngoding atau mendesain, dll.

Mampu berdamai dengan diri sendiri dan keadaan

Jika sepintas membaca penjelasan pada poin-poin sebelumnya, mungkin ada yang berpikir: wah, saya harus bisa semua donk? Oh, tentu saja tidak. Biar bagaimanapun, tidak semua bisa dikerjakan seorang diri.

Kenali kelemahan diri sendiri, dan ampuni jika suatu saat membuat kesalahan. Terkadang yang SA butuhkan adalah cukup menanyakan pertanyaan yang tepat kepada orang yang tepat. Belajarlah meminta tolong jika memang tidak memahami apa yang harus dilakukan.

Lalu bangun kembali, dan sapalah anggota timmu, “Halo mas/mbak, gimana pengembangan fitur yang kemarin? Ada kendala apa? Saya baru kepikiran nih, gimana kalau fitur itu alurnya kita perbaiki sedikit? Karena …”

Photo by John Schnobrich on Unsplash

Selama dua tahun perjalanan saya menjadi SA, banyak ketidaktahuan, pembelajaran, kesalahan, dan perbaikan yang harus dilalui, untuk akhirnya saya bisa memahami penuh lima poin di atas. Kelimanya tidak hadir secara bersamaan. Semua melewati proses mendaki gunung dan melewati lembah. Dan bisa jadi akan ada poin keenam, ketujuh, dst.

Nah, bagaimana dengan kamu? Kalau ada dari antara pembaca sekalian yang juga seorang system analyst atau seseorang yang juga berdiri di antara manusia dan sistem, yuk mari berbagi cerita seputar pengalaman dan pelajaran yang didapat! Lalu bagi kamu yang baru ingin menjadi seorang SA, mark my word …

It’s fun!


Ketika Manusia dan Sistem Ingin Bertemu, di situlah Kami Berada was originally published in VhiWEB on Medium, where people are continuing the conversation by highlighting and responding to this story.

Tell us a little bit about your project.

We would like to understand your problem better.