Author

upiqkeripiq

Date

14 Jun 2019

Source

Medium

Sang Pelanggan

Yang menakutkan dari kembali ke ibu kota setelah lebaran adalah belum bukanya warung atau tempat makan langganan.
Photo by Dan Gold on Unsplash

Apa kabar pembaca yang budiman? Bagaimana mudik kemarin? Lancar? Apakah tuan dan puan masih menguatkan diri kembali dari efek negatif dihujani bertubi-tubi pertanyaan-pertanyaan tidak penting yang sulit untuk dijawab?

Semoga segera pulih. :-)

Alkisah pagi ini sebelum memutuskan untuk duduk sekian jam di depan laptop seperti yang saya lakukan setiap hari, saya memutuskan untuk cari sarapan dulu. Karena ingin sekalian cek and ricek lingkungan sekitar sambil olahraga minimalis, jadilah saya memutuskan untuk berjalan kaki saja. Tentunya sebelum memulai jalan cepat saya tidak lupa menyomot sebatang Gudang Garam merah yang saya letakkan di kursi senja teras kantor tadi malam.

Kebiasaan ini kadang bikin saya ketawa sendiri.

olahraganya apa bung sekarang?

jalan cepat bung…

wah mantap bung.

jalan cepat sambil udud pastinya.

aih bagaimana mungkin -_-

Sesampai di depan pasar harapan saya hancur lebur (apasih?). Warung makan langganan saya masih belum buka terop. Alamak, padahal sudah hari kedua kerja setelah libur lebaran. Sungguh menyenangkan memang jadi bos warung makan atau bisnis kuliner. Bisa buka dan tutup warung sesuai kehendak hati.

By the way, kejadian kecil seperti ini sering kali baru terasa efeknya saat sudah kejadian, oleh karena itu saat warung makan favorit/langganan tuan dan puan sudah buka nanti, jangan lupa ucapkan terima kasih kepada penjaga warung langganan anda. Kalo misal tidak memberatkan, boleh juga dibawakan sedikit oleh-oleh dari kampung yang tuan dan puan bawa ke tempat rantau.

Terima kasih sudah ikut mewarnai hari-hari ku mbak/mas. Tanpa kalian hidupku hanya berisi baris-baris kode yang ditulis dan hanya bisa dipahami oleh ku sendiri.

saya jadi teringat sebuah quotes yang pernah saya baca dan membekas di ingatan saya.

kalau tuan dan puan ingin tau apakah sesuatu/seseorang itu berarti atau tidak bagi tuan dan puan. coba rasakan atau bayangkan bagaimana perasaan tuan dan puan saat sesuatu/seseorang itu tidak ada/tidak hadir.

Setelah tercenung beberapa saat sambil menggerutu dalam hati, melipirlah saya ke gerobak pedagang bubur ayam yang tak jauh dari lokasi warung makan langganan saya. Alangkah senangnya hati saya saat tukang bubur menyambut kedatangan saya dengan senyuman memikatnya.

“habis mas… sorry ya…”

Photo by Niko Lienata on Unsplash

Sungguh memang bukan pilihan yang bijak untuk meletakkan harapan atau mempunyai ekspektasi pada manusia. Sambil membalas senyum (palsu) tukang bubur dengan senyum (palsu) saya, saya menganggukkan kepala dan segera bergegas melangkahkan kaki ke gerobak sendu tukang bubur sebelah. Kali ini dalam hati saya bergumam bahwa saya tak akan tertipu lagi dengan senyuman tukang bubur kedua.

“wah, sampun telas mas…” (wah, sudah habis mas)

Hmmm, sudah kuduga. Sungguh memang, yang menakutkan dari kembali ke ibu kota setelah libur lebaran adalah belum bukanya warung atau tempat makan langganan. Sungguh terlalu…

judulnya kok mirip lagunya silampukau mas?

iya, terinspirasi.

sudah ijin belum?

belum.

lho kok?

apa? saya lapar cari sarapan gak dapat tadi. please ojo cangkeman!

#fin

nb: ini adalah seri pertama dari seri cerita #programmerbingung yang semoga akan bisa rutin saya tuliskan kelanjutan di hari-hari yang akan datang. tabik!


Sang Pelanggan was originally published in VhiWEB on Medium, where people are continuing the conversation by highlighting and responding to this story.

Tell us a little bit about your project.

We would like to understand your problem better.